Senin, 26 September 2016

RESUM PERTEMUAN 5




Isomeri Struktur Senyawa Hidrokarbon dan Sistem Nomenklatur

a. Sistim Nomenklatur
           
Pada pertengahan abad 19, banyak senyawa organic yang tidak tahu strukturnya. Pada waktu itu nama-nama senyawa bersifat ilustratif, yakni menyiratkan asal-usul atau sifatnya. Beberapa senyawa dinamai menurut nama sahabat atau kerabat ahli kimia yang pertama-tama menemukan senyawa itu. misalnya nama asam barbiturat ( dari situ dikenal kelompok obat barbiturat ) berasal dari nama wanita Barbara.

IUPAC dibentuk pada 1919 oleh ahli kimia dari industri dan akademisi, yang mengakui kebutuhan untuk standardisasi internasional dalam kimia. Standardisasi timbangan, ukuran, nama dan simbol sangat penting untuk kesejahteraan dan kesuksesan dari perusahaan ilmiah dan pengembangan kelancaran dan pertumbuhan perdagangan internasional dan perdagangan.

Tatanama organik atau lengkapnya tatanama IUPAC untuk kimia organik adalah suatu cara sistematik untuk memberi nama senyawa organic yang direkomendasikan oleh International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC). Idealnya, setiap senyawa organik harus memiliki nama yang dari sana dapat digambarkan suatu formula structural dengan jelas.
Untuk komunikasi umum dan menghindari deskripsi yang panjang, rekomendasi penamaan resmi IUPAC tidak selalu diikuti dalam praktiknya kecuali jika diperlukan untuk memberikan definisi ringkas terhadap suatu senyawa atau jika nama IUPAC lebih sederhana (bandingkan etanol dengan etil alkohol). Jika tidak, maka nama umum atau nama trivial yang biasanya diturunkan dari sumber senyawa tersebutlah yang digunakan.
v  Tata Nama Alkana
            Tatanama semua senyawa organik terbagi menjadi tata nama sistematik dan tata nama umum. Tata nama sistematik diatur oleh badan internasional IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Sedangkan nama umum pemakaiannya sangat terbatas, karena hanya digunakan untuk senyawa-senyawa dengan rumus molekul sederhana atau senyawa-senyawa tertentu saja.
               Nama yang diberikan pada suatu senyawa organik harus memberikan gambaran yang jelas mengenai rumus strukturnya demikian pula sebaliknya dari struktur yang ada nama suatu senyawa organik dapat ditentukan. Nama-nama beberapa alkana tidak bercabang yang sering disebut sebagai deret homolog dapat dilihat pada gambar.
Aturan-aturan pemberian nama sistematik alkana bercabang menurut IUPAC :
1) Alkana tak bercabang pemberian nama sistematik sesuai gambar di atas sedangkan untuk nama umum ditambah n (normal) untuk alkana yang tidak bercabang.
CH3–CH2–CH2–CH3
n-butana
2) Untuk alkana yang rantainya bercabang, rantai utamanya adalah rantai dengan jumlah atom C terpanjang. Gugus yang terikat pada rantai utama disebut substituen. Susstituen yang diturunkan dari suatu alkana dengan mengurangi satu atom H disebut gugus alkil. Gugus alkil memiliki rumus umum -CnH2n+1 dan dilambangkan dengan –R. Pemberian nama gugus alkil sesuai dengan nama alkana, tetapi mengganti akhiran -ana pada alkana asalnya dengan akhiran –il. Nama dan rumus beberapa gugus alkil dapat dilihat pada ( gambar 1)

3) Rantai terpanjang nomori dari ujung yang paling dekat dengan substituen sehingga rantai cabang memberikan nomor yang sekecil mungkin. Pada pemberian nama, hanya nomor atom karbon rantai utama yang mengikat substituen dituliskan kemudian diikuti nama susbstituen. (gambar 2)
 4) Jika terdapat lebih dari satu subtituen yang sama, maka nomor masing-masing atom karbon rantai utama yang mengikat substituen semuanya harus dituliskan. Jumlah substituen ditunjukan dengan awalan di, tri, tetra, penta, heksa dan seterusnya, yang berturut-turut menyatakan jumlah substituen sebanyak dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Penomoran tetap dimulai dari ujung yang paling dekat dengan substituen. (gambar 3)


5) Jika terdapat dua atau lebih sustituen yang berbeda, maka dalam penulisan nama disusun berdasarkan urutan abjad huruf pertama dari nama substituen. Penomoran rantai utama dimulai dari ujung rantai yang nama substituen berdasarkan urutan abjad lebih awal. awalan di, tri, tetra, penta, heksa dan seterusnya tidak perlu diperhatikan dalam penentuan urutan abjad.
 6) Awalan-awalan sek-, ters- yang diikuti tanda hubung tidak perlu diperhatikan dalam penentuan urutan abjad. Sedangkan awalan iso dan neo tidak perlu dipisahkan dengan tanda hubung dan diperhatikan dalam penentuan urutan abjad. Awalam iso menunjukan adanya gugus –CH(CH3)2 dan awalan neo- menunjukan adanya gugus –C(CH3)3.
v  Tata Nama Alkena
                  Pemberian nama untuk senyawa-senyawa alkena berdasarkan sistem IUPAC mirip pemberian nama pada alkana. Rantai utama alkena merupakan rantai dengan jumlah atom C terpanjang yang melewati gugus ikatan rangkap dan atom C yang mengandung ikatan rangkap ditunjukan dengan nomor.
               Ikatan rangkap yang dinomori diusahakan memperoleh nomor serendah mungkin. Pemberian nama pada alkena yaitu mengganti akhiran –ana pada alkana dengan akhiran –ena dengan jumlah atom C sama dengan alkana. Pemberian nama untuk alkena bercabang seperti pemberian nama pada alkana.
Alkena-alkena suku rendah nama umum lebih sering digunakan dibanding nama sistematik. Misalnya
v  Tatanama Alkuna
Sistem IUPAC
1) Pemberian nama pada alkuna menyerupai tata nama elkana yakni mengganti akhiran –ana pada alkana terkait dengan akhiran –una.
2) Rantai atom karbon terpanjang adalah rantai atom karbon yang mengandung ikatan ganda tiga
3) Penomoran dimulai dari salah satu ujung rantai yang memungkinkan ikatan ganda tiga mempunyai nomor serendah mungkin.
4) Pada penulisan nama, atom C yang mengandung atom ikatan ganda tiga ditunjukan dengan nomor.
Contoh
Nama Umum
                Nama umum digunakan untuk alkuna-alkuna sederhana. Dalam pemberian nama umum alkuna dianggap sebagai turunan asetilena (C2H2) yang satu atom hidrogennya diganti oleh gugus akil.
Contoh:

b. Isomer Struktural
           
Variasi dalam structural senyawa organic dapat disebabkan oleh jumlah atom dan jenis atom dalam molekul. Tetapi variasi dalam struktur ini dapat juga terjadi karena urutan atom yang terikat satu sama lain dalam suatu molekul. Misalnya untuk rumus molekul C2H6O dapat ditulis dua rumus bangun yang berlainan. Kedua rumus bangun ini menyatakan dua senyawa yang berlainan:
·        Dimetil eter (t.d – 23,6 C ) suatau gas yang pernah digunakan sebagai refrigerant ( gas dalam lemari es ) dan sebagai suatu gas dorong aerosol. Dalm bidang kimia dimeti eter bersifat non polar.
·        Etanol (t.d 78,5 C ) suatu cairan yang digunakan sebagai pelarut ( solvent) dan dalam minuman beralkohol, dan bersifat polar.

Dua senyawa atau lebih yang memiliki rumus molekul yang sama disebut isomer satu terhadap yang lain.Jika senyawa-senyawa dengan rumus molekul yang sama itu memiliki urutan atom yang berlainan, maka mereka mempunyai struktur bangun yang berlainan dan disebut isomer structural satu terhadap yang lain ( kelak akan dijumpai, macam isometric lain ). Dimetil eter dan etanol tadi merupakan contoh sepasang isomer structura, termasuk isomer gugus fungsi.

Isomer struktur terbagi menjadi tiga:
1. Isomeri Rangka
Isomeri rangka adalah isomeri yang terjadi karena perbedaan rangkanya, biasanya terjadi antara senyawa rantai lurus dengan senyawa yang memiliki cabang, bisa pula antar senyawa yang memiliki cabang, namun berbeda pada posisi dan jumlah cabang.
Contoh : butana memiliki dua isomer yaitu, normal butana (n-butana) dan isobutana (2-metilpropana)

Description: D:\POST5\jenis-jenis-isomer-pada-senyawa_files\isomerbutana.jpg
 
2. Isomeri Posisi
Isomeri posisi adalah isomeri yang terjadi karena perbedaan posisi ikatan rangkap. Isomeri ini hanya terjadi pada senyawa hidrokarbon tak jenuh (alkena dan alkuna).
Contoh : butena memilki dua isomer posisi yaitu, 1-butena dan 2-butena

Description: D:\POST5\jenis-jenis-isomer-pada-senyawa_files\butena.jpg

3. Isomer fungsional

Dalam berbagai ini isomer struktural, isomer mengandung gugus fungsional yang berbeda – yaitu, mereka milik keluarga yang berbeda dari senyawa (seri homolog yang berbeda).
Sebagai contoh, rumus molekul C3H6O dapat berupa propanal (aldehid) atau propanon (keton).
Ada kemungkinan lain juga untuk formula ini molekul yang sama – misalnya, Kita bisa memiliki ikatan karbon-karbon gkita (alkena) dan -OH (alkohol) dalam molekul yang sama.
Contoh lainnya digambarkan dengan rumus C3H6O2 molekul. Di antara beberapa isomer struktural ini asam propanoat (asam karboksilat) dan metil etanoat (ester).

C. Isomer pada Alkana
Setiap atom karbon mempunyai empat elektron valensi yang digunakan untuk membentuk ikatan kovalen dengan atom lainnya, yang digambarkan sebagai tangan ikatan. Jadi, atom karbon pada senyawa karbon selalu mempunyai empat tanga ikatan. Pada alkane, keempat tangan tersebut bila tidak digunakan untuk mengikat atom karbon yang lain akan digunakan untuk mengikat atom hidrogen.
Penggantian (subsitusi) sebuah atom H yang mana pun pada gambar model molekul di atas dengan atom klorin, akan menghasilkan senyawa yang lain. Hal ini menunjukan bahwa semua atom H di dalam senyawa CH4 mempunyai kedudukan yang identik. Jika dua model molekul metana digabungkan, akan didapat molekul hidrokarbon dengan dua atom karbon didalamnya, seperti tampak pada gambar berikut.
Rumus Alkana
Gambar tersebut menunjukan bahwa alkane yang terbentuk dari dua atom karbon akan mengikat enam atom hidrogen sehingga mempunyai rumus molekul C2H6. Jika penggantian atom hidrogen dengan atom karbon dilakukan terus menerus, akan didapat struktur seperti pada gambar di bawah.
Jumlah atom C
Rumus struktur
Rumus Molekul
1
CH4
CH4
2
CH3– CH3
C2H6
3
CH3– CH2– CH3
C3H8
4
CH3– CH2– CH2– CH3
C4H10
8
CH3-CH2– CH2– CH2– CH2– CH2– CH2– CH3 atau
CH3(CH2)6CH3
C8H18
N
Rumus Alkana (rumus umum alkane)
CnH2n+2
Jadi, rumus alkana atau rumus umum molekul alkane adalahCnH2n+2

Deret Homolog Alkana

Deretan rumus molekul alkane (tabel di bawah) menunjukan bahwa pada setiap anggota yang satu ke anggota yang berikutnya bertambah sebanyak CH2. Deret senyawa karbon yang demikian ini disebut deret homolog (deret homolog alkana). Deret homolog alkana mempunyai sifat – sifat berikut:
  • Mempunyai rumus umum, untuk deret homolog alkana adalah CnH2n+2.
  • Antara satu anggota ke anggota berikutnya mempunyai pembeda CH2.
  • Selisih massa rumus antara satu anggota ke anggota berikutnya  adalah 14.
  • Semakin panjang rantai atom karbonnya, semakin tinggi titik didihnya.
Tabel yang menunjukan sebagian anggota deret homolog alkana dengan beberapa sifatnya.
Jumlah atom C
Rumus Molekul
Nama
Titik lebur (oC)
Titik Didih (oC)
Massa jenis (g/cm3)
Wujud (suhu kamar)
1
CH4
Metana
-181,9
-163,9
0,466
Gas
2
C2H6
Etana
-183,2
-88,5
0,572
Gas
3
C3H8
Propana
-189,6
-42,0
0,585
Gas
4
C4H10
Butana
-138,3
-0.4
0.601
Gas
5
C5H12
Pentana
-129,9
36,2
0,626
Cair







6
C6H14
Heksana
-94,9
69,1
0,660
Cair
7
C7H16
Heptana
-90,5
98,5
0,684
Cair
8
C8H18
Oktana
-56,7
125,8
0,703
Cair
9
C9H20
Nonana
-50,9
150,9
0,728
Cair
10
C10H22
Dekana
-29.6
174,2
0.730
Cair
11
C11H24
Undekana
-25,5
196,1
0,740
Cair
12
C12H26
Dodekana
-14,5
216,4
0,749
Cair
18
C18H38
Oktadekana
28
313,9
0,789
Padat
20
C20H42
Eikosana
36,9
343,9
0,789
Padat

Isomer adalah peristiwa di mana suatu senyawa karbon mempunyai  rumus molekul sama tetapi struktur berbeda.
Contoh
Senyawa dengan rumus molekul C4H10 mempunyai dua struktur yang berbeda, yaitu:
Description: isomer alkana - isomer butana
Perbedaan antara senyawa n-butana (baca: normal butana) dengan metil propana adalah pada kerangka rantai karbonnya. Rantai n-butana tidak bercabang, sedangkan metil propana rantainya bercabang pada atom C-2. Perbedaan struktur kedua senyawa tersebut mengakibatkan kedua sifat, di mana titik didih n-butana adalah -0,4oC sedangkan titik didih metil propana adalah -11,6oC.
Semakin banyak jumlah atom karbon penyusun alkana, semakin banyak jumlah isomer alkana -nya.
 Tabel: Jumlah isomer alkana dari beberapa senyawa
Jumlah atom C
4
5
6
7
8
9
10
15
20
Rumus molekul
C4H10
C5H12
C6H14
C7H16
C8H18
C9H20
C10H22
C15H32
C20H42
Jumlah isomer
2
3
5
9
18
35
75
4.347
366.319
Tabel berikut menunjukan perbedaan titik didih dan titik lebur dari isomer senyawa heksana.
Tabel: titik didih dan titik lebur isomer heksana (C6H14)
Struktur
Nama
Titik didih (oC)
Titik lebur (oC)
CH3-CH2-CH­2– CH2-CH­2-CH3
n-heksana
69
-95
Description: isomer alkana - 2-metilpentana
2-metil pentana
60
-154
Description: isomer alkana - 3-metilpentana
3-metil pentana
63
-118
Description: isomer alkana - 2,2-dimetilbutana
2,2-dimetil butana
50
-98
Description: isomer alkana - 2,3-dimetilbutana
2,2-dimetil butana
58
-129

 

SIFAT ALKANA

A. Sifat Kimia Alkana

Alkana merupakan senyawa kovalen yang mempunyai titik didih dan titik lebur realtif rendah. Titik didih dan titik lebur alkana ditentukan oleh banyaknya atom karbon dan struktur rantai atom karbonnya.
Description: sifat alkana - sifat fisika alkana
secara umum titik didih dan titik lebur alkana mempunyai pola sebagai berikut.
  1. Semakin banyak atom karbon atau semakin panjang rantai karbon suatu alkana, semakin tinggi titik didih dan titik leburnya.
  2. Untuk jumlah atom karbon yang sama, isomer dengan rantai karbon tidak bercabang (rantai karbon yang lurus) mempunyai titik didih dan titik lebur yang lebih tinggi daripada isomer dengan rantai karbon bercabang.
  3. Semakin banyak cabang pada rantai karbonnya, semakin rendah titik didih dan titik leburnya.

B. Sifat Fisika Alkana

Alkana merupakan hidrokarbon jenuh dan semua ikatan yang ada merupakan ikatan kovalen yang sempurna. Akibatnya, hidrokarbon merupakan senyawa yang kurang reaktif sehingga disebut “parafin” yang berarti daya gabung atau daya reaksinya rendah. Semakin panjang rantai karbon, semakin berkurang kereaktifannya. Reaksi pada alkana umumnya merupakan reaksi substitusi, yaitu reaksi penggantian gugus atom hidrogen pada suatu alkana. Simak beberapa contoh reaksi pada alkana berikut.
  1. Dengan gas klorin dapat bereaksi jika ada sinar matahari atau bantuan cahaya.
CH4 + Cl2 → CH3Cl + HCl
                   Metilklorida
                (klorometana)
  1. Pada pembakaran sempurna alkana, akan dihasilkan gas CO2 dan H2O.
CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O
Mengapa sudut ikatan H-C-H 117 derajat lebih kecil dibandingkan sudut H-C-C 121 derajat ?
Karena Sudut ikatan HCH pada eten adalah 117 derajat dan sudut HCC adalah 121,5 derajat. Ada dua alasan yang menggabungkan untuk menjelaskan deformasi  ini pada eten.
·        Pertama, dari sudut ikatan dan Teorema Coulson ini kita dapat menentukan bahwa ikatan sigma CH adalah hibridisasi sp2 dan ikatan CC sigma adalah hibridisasi sp. Dari indeks hibridisasi ini, kita melihat bahwa ikatan CC sigma memiliki konten yang lebih tinggi s-karakter (1 bagian s 1,7 bagian p - 37% s) dari obligasi CH (1 bagian s 2,2 bagian p - 31% s).  Karena ada lebih s karakter dalam ikatan CC, lebih rendah energi dan elektron karbon sigma akan cenderung mengalir ke arah energi ikatan CC ini lebih rendah. Akibatnya, CC ikatan sigma akan berisi kerapatan lebih elektron dari ikatan CH. Oleh karena itu, tolakan elektron antara obligasi sigma CC dan obligasi sigma CH akan lebih besar dari tolakan elektron antara dua ikatan CH. Maka sudut ikatan HCC akan terbuka sedikit dari ideal 120 derajat dan sudut HCH akan menutup sedikit untuk meminimalkan tolakan elektrostatik ikatan-ikatan.
·        Kedua, faktor sterik (yang juga benar-benar hanya cara lain untuk menjelaskan tolakan elektron-elektron) juga ikut bermain. Sejauh apa pun cis HC-CH hidrogen-hidrogen tolakan lebih stabil daripada geminal HCH hidrogen-hidrogen tolakan, itu juga akan berfungsi untuk meningkatkan sudut ikatan CCH dan mengecilkan sudut ikatan HCH.





           






























           

7 komentar:

  1. saya ingin bertanya tentang materi anda, Mengapa semakin banyak jumlah atom karbon penyusun alkana, semakin banyak juga jumlah isomer alkana -nya??? Apa yang mempengaruhi hal tersebut dan berikan penjelasannya!!!

    Dan saya ada sedikit saran untuk saudari lilis untuk memperhatikan pengupload an gambarnya karena dipostingan anda ini gambarnya tidak jelas hanya terlihat berwarna putih saja.
    Terimah kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena itu memang sudah ketentuannya semakin banyak jumlah atom karbon penyusun alkana, semakin banyak juga jumlah isomer alkana -nya, jadi jumlah isomer itu tergantung dari banyaknya atom karbon nya, terimakasih.

      Hapus
  2. saya sedikit menambahkan pada sistem nomenklatur. Pada akhir abad 19 ahli kimia organic memutuskan untuk mensistematikan tata nama organic untuk menghubungkan nama senyawa dan strukturnya. System tata nama yang telah dikembangkan disebut nama jenewa atau system IUPAC.
    Parent: Rantai induk
    Prefix (cabang): Rantai atom karbon paling panjang, menggambarkan struktur utama, dilihat dari monosiklik, disiklik dan lain-lain.
    Suffix (akhiran): ana, ena, dan una.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum. Saya ingin sedikit menambahkan pada bagian isomer alkana. Kemungkinan jumlah isomer akan meningkat tajam ketika jumlah atom karbonnya semakin besar.Contohnya:
    C1: tidak memiliki isomer: metana
    C2: tidak memiliki isomer: etana
    C3: tidak memiliki isomer: propana
    C4: 2 isomer: n-butana dan isobutana
    C5: 3 isomer: pentana, isopentana, neopentana
    C6: 5 isomer: heksana, 2-Metilpentana, 3-Metilpentana, 2,3-Dimetilbutana, dan 2,2-Dimetilbutana
    C12: 355 isomer
    C32: 27.711.253.769 isomer
    C60: 22.158.734.535.770.411.074.184 isomer, banyak di antaranya tidak stabil.

    BalasHapus
  4. Baiklah terimakasih atas penambahannya saudari mia, novani, dan sheira.

    BalasHapus
  5. Saya mencoba menjawab pertanyaan saudari nurussalamia :
    Alkana merupakan senyawa hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan karbonnya merupakan ikatan tunggal. Isomer adalah peristiwa di mana suatu senyawa karbon mempunyai rumus molekul sama tetapi struktur berbeda. isomer adalah suatu senyawa dari beberapa senyawa yang mempunyai rumus molekul sama, tetapi mempunyai sifat berbeda akibat perbedaan susunan atom-atomnya. Semakin banyak jumlah atom karbon penyusun alkana, semakin banyak jumlah isomer alkana -nya. Suatu molekul dapat bergerak dalam ruang, menekuk atau membelit
    sehingga dapat digambarkan dengan beberapa cara yang berbeda. Jumlah isomer pada alkana dipengaruhi oleh perbedaan terletak pada urutan penggabungan atom-atom yang menyusun molekul, perbedaan terletak pada cara penataan atom-atom dalam ruang, tetapi urutan penggabungan atom-atomnya tidak
    berbeda. Alkana dengan jumlah atom karbon tiga atau kurang, tidak mempunyai isomer. Pada senyawa berumus molekul CH4 (metana), C2H6 (etana) dan C3H8 (propana) hanya terdapat satu cara untuk menyusun atom-atomnya, tidak terdapat peluang lainnya, sehingga tidak ditemukan isomernya. Akan tetapi, alkana dengan empat karbon mempunyai dua cara penataan atom-atomnya, sehingga ditemukan
    dua isomer yang mempunyai rumus molekul C4H10, yaitu butana dan 2- metilpropana. Makin besar jumlah atom karbon yang terdapat dalam rumus molekul, makin banyak senyawa-senyawa yang berisomeri. Pada senyawasenyawa dengan rumus molekul C5H12 ditemukan terdapat 3 isomer struktur,
    C6H14 ditemukan terdapat 5 isomer struktur, dan C10H22 ditemukan terdapat 75 isomer struktur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas penambahannya saudari vini, sangat membantu..

      Hapus